Tabu Design merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di sektor produksi produk meubel dan furniture, dengan factory di kota Solo, dan didukung oleh 3 kantor marketing yang berada di Jakarta dan Denpasar. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2006 oleh CEO-nya Mr. Fernando Heras Varel yang merupakan pria berkebangsaan Spanyol. Reporter Rooting In berkesempatan mengunjungi   Tabu Design di Kota Solo tepatnya di wilayah Pabean, Sukoharjo, dan bertemu langsung dengan Mr. Fernando. Komplek factory Tabu Design cukup luas dengan luasan sekitar 6.000 m2.

Tabu design menyerap kayu Jati dan Mindi dengan kapasitas rata-rata 12 kontainer perbulan, dimana 1 kontainer berisi 60 feet atau jika dikubikasi berkisar antara 100-120 m3 per bulannya. Untuk harga kayu Jati yang dibeli oleh Tabu Design berupa log berkisar antara 15-18 juta rupiah / meter kubik, sedangkan untuk kayu Mindi berada pada kisaran harga 3 s/d 4 juta rupiah / meter kubik. Fernando, CEO tabu Design menyatakan kayu Jati banyak yang membutuhkan, namun karena saat ini supplainya memang tersendat sehingga mengakibatkan harganya sangat mahal. Kayu Jati yang diperoleh selama ini dari Supplier di Kota Solo dan sekitarnya dengan sistem kontrak atau request kuota dan tentunya kayu yang bersertifikat.

Dari beberapa tahun belakangan ini Fernando juga mengungkapkan memang sangat kesulitan dalam mendapatkan bahan baku kayu, dari situlah harga kayu bisa sangat melambung naik terutama kualitas Veneer. “Pada kasus tertentu seperti yang terjadi bulan lalu, dari client kami minta harus Jati maka kami akan memenuhi order tersebut dengan kayu Jati pula. Untuk itulah dalam mengatasi permasalahan keterbatasan pasokan kayu, kita biasanya melakukan stockiest ke supplier dan berani bayar mahal ke supplier jika memang dari client benar-benar menginginkan Jati dan berani membayar mahal pula”

Perusahaan ini memiliki pekerja harian sekitar 30-80 di lokasi factory, yang artinya industri ini tanpa kita sadari akan ikut menghidupi banyak kepala keluarga dari proses supply chain business-nya. Dan hal ini berarti industri meubel dan furniture ini memiliki dampak yang sangat komprehensif pada banyak aspek kehidupan masyarakat terutama di Kota Solo tidak hanya dari segi bisnis / usaha itu semata bahkan dari segi seni budaya ukir dan lain-lain memiliki nilai budaya kehidupan masyarakat yang sangat kental.

Tabu Design merupakan perusahaan Meubel dan Furniture yang unik, mengapa dikatakan unik, hal ini seperti diungkapkan oleh Fernando yang mengatakan “kami memiliki banyak model prototype produk, kursi, meja, lemari, dll, yang  dalam 2 tahun produk tersebut akan berganti-ganti, dan setalhnya kami hanya akan menjadikannya berupa koleksi dan tidak memproduksinya lagi. Perusahaan ini bertumbuh dengan dinamis ke arah modern sesuai dengan kemajuan zaman. Untuk pemasaran produk, Tabu Design memasarkan produknya pasar export ke negara-negara seperti Taiwan, Amerika Utara, USA, Amerika Selatan, Spanyol dan beberapa negara lainnya di eropa. Sedangkan untuk pasar lokal banyak menyasar atau menargetkan supply ke hotel-hotel di Indonesia.

Kedepannya Fernando mengharapkan, sektor plantation dan pemerintah dapat bersama-sama bekerjasama untuk menghidupkan industri meubel dan furniture. Ia juga mengingnkan pemerintah senantiasa meng-upgrade kebijakan yang lebih “pro” terhadap industri kehutanan Indonesia terutama dalam hal penyesuaian supply and demand agar industri tidak banyak beralih pada sektor industri pengganti atau industri alternatif. Beberapa perusahaan yang awalnya bergantung Jati berdiversifikasi ke jenis lain karena memang supply-nya untuk saat ini tidak ada, dan harganya memang cukup tinggi.

Ia juga mengingatkan, bahwa pemerintah Indonesia harus lebih antisipatif lagi, karena beberapa produk American Wood, seperti Oak Wood, dan Mapple Wood dapat saja mengancam pasaran Industri dan pasokan bahan baku jika harganya lebih bagus dan order untuk produk tersebut lebih banyak, tutupnya.