Pada bulan Januari lalu kita dikagetkan dengan bencana banjir yang terjadi dimana-mana. Sebut saja Jakarta, Tangerang, Subang termasuk daerah pantura seperti Cirebon, Pemalang, Batang Pekalongan, Jepara dan Pati. Belum lagi daerah Manado yang terkena banjir besar (banjir bandang). Tentunya banyak kerugian yang diderita oleh korban baik secara materi, psikologi (trauma) bahkan korban jiwa. Kami turut prihatin atas bencana tersebut. Semoga bencana banjir ini segera berakhir.
Terjadinya banjir dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti curah hujan yang tinggi, pendangkalan sungai, abrasi air laut, perubahan fungsi lahan di daerah hulu, kurangnya lahan hijau di perkotaan serta pola hidup masyarakat yang tidak ramah lingkungan. Dari berbagai macam faktor tersebut, tampaknya kita harus menela’ah apa yang menyebabkan banjir kali ini. Sebut saja banjir yang melanda DKI Jakarta. Banjir yang melanda Jakarta secara merata kali ini lebih disebabkan oleh alih fungsi lahan di daerah hulu. Menurut Walhi, bencana banjir dan longsor yang terjadi dikarenakan banyak hutan yang beralih fungsi. Banyaknya hutan yang ditebang untuk pemukiman dan industri. Ini merupakan permasalahan yang serius. Wilayah hutan yang semakin berkurang terutama di daerah hulu inilah yang mengakibatkan banjir. Selain itu, kesedian ruang terbuka hijau (RTH) pada suatu kota atau wilayah juga mempengaruhi terjadinya banjir. Ruang terbuka hijau tersebut berfungsi sebagai daerah serapan air hujan. Jika ruang tersebut tidak memenuhi standar (30% dari luasan wilayah) atau bahkan tidak ada, maka dapat dipastikan daya dukung lingkungannya tidak berjalan baik termasuk mengakibatkan banjir.
Lalu langkah bijak apa yang dapat kita ambil dalam menghadapi peristiwa ini? Tentunya bukan dengan saling menyalahkan. Kita harus berfokus pada solusi. Salah satu langkah nyata yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kondisi ini adalah dengan memberi ruang lebih banyak untuk hutan. Hutan memiliki peran penting dalam fungsi tata air seperti;

  • Area resapan air hujan

Banyaknya lapisan humus yang berpori-pori dan akar� mengotimalkan fungsi hutan sebagai area resapan air. Ketiadaan area resapan ini bisa menimbulkan kelangkaan air yang bersih dan higienis, atau air siap pakai.

  • Payung raksasa pencegah longsor.

Rapatnya jarak antara tumbuhan satu dengan tumbuhan lainnya juga rata-rata tinggi pohon di segenap lokasinya berguna untuk melindungi permukaan tanah dari derasnya air hujan. Tanpa payung raksasa ini, lahan gembur yang menerima curah hujan tinggi lambat laun akan terkikis dan mengalami erosi. Dengan begitu daerah-daerah sekitarnya pun akan rentan terhadap bahaya longsor

  • Pencegah banjir

Jika suatu wilayah mempunyai hutan, hujan yang jatuh akan diserap oleh tanah, tidak langsung menjadi aliran permukaan. Jika lahan hutan tersebut diubah menjadi lahan yang kedap air seperti perumahan, maka hujan yang jatuh tidak dapat meresap ke dalam tanah dan mengalir langsung menjadi aliran permukaan. Hal ini tentunya akan meningkatkan potensi banjir di daerah tersebut dan daerah � daerah di sekitarnya yang memiliki ketinggian lebih rendah.
Dampak pengabaian keberadaan hutan dapat dilihat �pada banjir yang seringkali melanda Ibu Kota


Jakarta pada musim penghujan.� Banyak area resapan air sekitar Jakarta yang telah berubah fungsi menjadi real estate, kompleks perkantoran atau apartemen, dan pusat perbelanjaan megah. Titik-titik resapan di daerah hulu seperti kawasan Puncak, Cipayung, Bogor, dan Depok pun diubah fungsinya. Pengerasan tanah akibat pendirian gedung-gedung perkantoran, kompleks perumahan tersebut di bekas daerah hutan pegunungan tersebut memberikan andil besar atas terjadinya banjir di kawasan Jabodetabek. Tanpa area resapan dan penahan air yang mumpuni, terjadi ketidakseimbangan sistem input dan output air tanah di Jakarta dan sekitarnya. Karena ketidakseimbangan itu, air hujan yang deras mengguyur kota mengalir langsung sebagai air permukaan lalu meluapkan sungai di daerah-daerah tertentu, sehingga akhirnya mengalir ke laut.
Terlebih lagi, kawasan kota Jakarta hanya sedikit sekali memiliki ruang terbuka hijau (hutan kota dan taman) yang memadai sebagai daerah resapan air. Jakarta hanya memiliki 9 hutan kota Jakarta, yaitu : Angke-Pluit, Kemayoran, Srengseng, Halim PK, Cilangkap, Ragunan, Setu Babakan, Cibubur dan Hutan UI. Keberadaan 9 hutan tersebut tidak mencukupi sebagai area resapan hujan, sekalipun ditambah dengan keberadaaan taman � taman di area perumahan
Bagaimana hutan di Kota dan Kabupaten Bogor yang menjadi hulu Sungai Ciliwung dan Cisadane? Di Kota Bogor yang boleh disebut hutan hanya Kebun Raya Bogor dan Hutan Penelitian yang terletak di Darmaga dan kawasan kantor Lembaga Penelitian Hutan Gunung Batu.  Sedangkan untuk daerah Ciawi sampai Puncak, keberadaan hutan lindung dan hutan konservasi sudah semakin tergusur keberadaannya oleh villa dan hotel. Data dari Forestwatch Indonesia menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2000-2009 terjadi penyusutan hutan di wilayah tersebut seluas 4.895 hektar.
Untuk mengatasi kondisi yang memprihatikan tersebut, Pemprov DKI beserta Pemkab Bogor mengambil langkah nyata dengan membongkar ratusan villa dan hotel ilegal di kawasan Puncak untuk dijadikan hutan kembali. Langkah ini diharapkan akan mengembalikan fungsi daerah hulu tersebut sebagai area serapan hujan.
Bagi Anda yang ingin berpartisipasi dalam mengembalikan luas hutan Indonesia, Harfam membuka peluang kepada Anda dengan konsep yang luar biasa. Melalui sistem Partnership Aforestasi (pembangunan) Hutan Jati, Harfam mencetuskan konsep bisnis People, Planet, Profit� yang memberi keuntungan pada banyak pihak tidak hanya bagi Anda tetapi juga lingkungan dan masyarakat sekitar.
Harfam membangun Hutan Jati di lahan � lahan yang tidak dimanfaatkan di daerah Bondowoso dan Situbondo. Lahan hutan tersebut sangat berguna sebagai daerah serapan air hujan. Selain itu, masyarakat sekitar juga diuntungkan dengan penyerapan tenaga kerja dan tentunya keuntungan ekonomi bagi Anda setelah panen (8 tahun) dengan potensi 15 miliar/hektar