Permasalahan tenaga kerja di Indonesia memang memiliki kompleksitas tersendiri. Jumlah tenaga kerja selalu bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah setiap tahunnya, namun hal ini tidak diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang memadai. Bidang usaha yang banyak menyerap tenaga kerja hampir semuanya berada di kota besar. Kota – kota kecil yang notabene jarang terdapat lapangan pekerjaan mendorong banyak masyarakatnya terutama wanita untuk mencari pekerjaan di luar negeri sebagai TKW.
Harfam sebagai perusahaan Aforestasi Jati yang berpusat di Surabaya, memilih kota kecil seperti Bondowoso untuk melakukan penanamannya di kota tersebut. Kehadiran Harfam di kota tersebut telah banyak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Ibu Halim (35 th), warga dusun Maskuning, Bondowoso adalah mantan TKW yang bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia selama 20 bulan sebagai pembantu rumah tangga. Kini Ibu Halim sudah tidak mau lagi kembali menjadi TKW dan memilih bekerja di Harfam. Perasaan bahagia meliputinya saat dia tak harus mencari nafkah di luar negeri. “Bekerja di sini bisa lebih dekat dengan keluarga. Anak – anak juga tidak rela saya bekerja di luar negeri’’, tuturnya.
Ibu Halim telah bekerja di Harfam selama 3 tahun. Pekerjaan yang biasa dilakukan adalah membersihkan rumput dan alang – alang serta memberi pupuk kandang pada tanaman Jati. Pekerjaan ini dilakukan hingga tengah hari. “Saya senang kerja di sini karena dekat dan banyak teman. Saya ingin terus bekerja disini, tidak ingin jadi TKW lagi”, begitu tuturnya ketika ketika tim marketing communication Harfam menanyakan mengenai perasaaannya bekerja di Harfam.
Selain permasalahan TKW, arus urbanisasi juga menjadi masalah yang belum terselesaikan. Pembangunan yang berkutat di kota besar masih menjadi alasan utama bagi warga daerah untuk berpindah ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Kota-kota besar khususnya Jakarta dan daerah penyanggah sekitarnya menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat yang melakukan urbanisasi. Penduduk yang berasal dari kota-kota kecil di Jawa dan luar Pulau Jawa menganggap Jakarta dan daerah penyanggah sekitarnya itu lokasi yang tepat untuk mencari lapangan pekerjaan. Padahal permasalahan yang ditimbulkan akibat urbanisasi tersebut meliputi kepadatan kota yang bertambah sehingga menimbulkan
rasa sumpek, kemacetan yang semakin menggila serta makin menjamurnya rumah/gubuk liar yang membuat kota – kota besar seperti Jakarta terlihat kumuh.
Pemerintah sebenarnya sudah memberikan kebijakan otonomi daerah untuk mendorong pembangunan dan menumbuhkan kesempatan kerja. Akan tetapi, hal tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan. Terbukti dengan masih banyaknya warga yang memilih untuk meninggalkan daerahnya dan mencari rezeki di tempat lain baik di dalam negeri maupun di luar negeri (sebagai TKI/TKW). Apabila hal tersebut masih banyak terjadi, maka  setiap pemerintah daerah harus menyadari bahwa kebijakan dan program pembangunan yang dilakukan selama ini tentu harus dievaluasi total, karena terbukti tidak mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang baru. Pengusaha – pengusaha lain juga di harapkan bisa ikut berperan aktif untuk menciptakan lapangan pekerjaan di kota – kota kecil, menggali potensi unik di masing – masing daerah sehingga hal ini akan  dapat mengatasi arus urbanisasi, bahkan dapat menarik kembali warga-warganya yang sudah di luar kota maupun luar negeri untuk bekerja di daerahnya sendiri.
Daerah Bondowoso misalnya, potensi di bidang agro (pertanian dan kehutanan) menjadi komoditi andalan. Dengan kondisi tanahnya yang subur serta iklim mendukung membuat sektor ini dapat dikembangkan secara optimal demi kesejahteraan masyarakatnya. Harfam melihat potensi ini sebagai peluang yang besar sebagai tempat dibangunnya Hutan Jati Harfam. Hal tersebut tentunya memberikan banyak lapangan kerja pada penduduk sekitar untuk bekerja di daerahnya sendiri. Harfam menjadi salah satu solusi bagi masyarakat khususnya Bondowoso yang ingin bekerja tanpa harus menjadi tenaga kerja di luar negeri ataupun melakukan urbanisasi ke kota besar. Tujuan utama berbisnis memang untuk menaikan kapital dan memperoleh profit, tetapi bukan berarti kita boleh mengesampingan hal lain seperti aspek sosial. Karena bisnis yang mulia adalah bisnis yang mampu memberikan banyak manfaat, bukan hanya bagi pemiliknya/pengusaha, tetapi juga masyarakat sekitar.