Crew Melakukan Pendaratan

Mahasiswa Pencinta Alam ‘MPA’ Aranyacala Trisakti diundang oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat untuk menghadiri gebyar pesona Danau Ranau untuk turut meramaikan acara dengan melakukan penerbangan paralayang dari tepi danau ranau.
Salah satu personil kami, tiba di Danau Ranau dan berkumpul dengan beberapa penerbang lainnya yang turut diundang yang berasal dari Jakarta dan Lampung. Sehari sebelumnya, ketika melakukan perjalanan menuju lokasi sempat terjadi kekhawatiran apakah esok hari bisa melakukan penerbangan karena sepanjang perjalanan, hujan terus mengguyur.
Kegiatan dimulai dengan mendaki bukit Mandiangin menuju area take off yang terletak di puncak bukit. Pendakian dilakukan dengan berjalan kaki karena disana belum tersedia jalan untuk dilalui kendaraan roda empat. Satu jam berselang, kami pun tiba dan disambut dengan pemandangan danau yang sangat indah. Begitu rasa capek sudah hilang dan badan segar kembali, kami berkumpul dan berdoa memohon keselamatan selama melakukan aktivitas penerbangan hari ini dan diakhiri dengan kalimat, ‘BRAVO PARALAYANG!’

Cuaca cerah menyambut dengan angin yang berhembus cukup kencang. Penerbang kami, Irwan sebagai penerbang pertama mulai menggelar parasut dan melakukan berbagai check and recheck. Setelah memastikan segala hal tidak ada masalah, penerbangan dimulai dengan melakukan ridge soaring, yaitu memutari bukit dengan manuver angka 8 untuk menambah ketinggian yang dilakukan dengan cara memanfaatkan hembusan angin yang bergerak ke atas akibat aliran yang dibelokkan oleh bukit. Setelah puas bermanuver selama + 10 menit, Irwan terbang menjauhi bukit dan bergerak

menyusuri bukit lain yang berada di depan kurang lebih 700 meter, dan disitulah petualangan baru dimulai.
Sepanjang 200 meter menyusuri bukit tersebut dari sisi kiri penerbangan begitu menyenangkan karena, pemandangan yang indah dan angin yang stabil. Namun setelah itu secara bertahap kecepatan angin terus meningkat yang ditandai dengan mulai lambatnya laju parasut hingga pada titik dimana parasut tidak melaju sama sekali alias menggantung diudara.Akhirnya Irwan memutuskan untuk bergerak menjauhi bukit agar terhindar dari ancaman turbulence yang dapat mengakibatkan parasut sulit atau kehilangan kendali. Turbulence adalah angin berputar yang bertiup disekitar bukit. Dengan sangat pelan parasut dibawa menjauhi bukit. Setelah yakin bahwa posisi saat ini cukup jauh untuk terkena pengaruh turbulence, selanjutnya dilakukan manuver menurunkan ketinggian. Tiba-tiba saja saat bermanuver, sisi kiri parasut collapse, yaitu suatu kondisi dimana tekanan udara didalam parasut tidak seimbang antar satu bagian dengan bagian lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut, pilot harus menjaga tekanan udara di sisi kanan tetap stabil agar sisi kiri parasut dapat kembali normal.

Setelah parasut kembali normal, penerbangan dilanjutkan lagi hingga mendarat diatas lapangan rumput. Malam harinya kami berkumpul dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Merupakan pengalaman yang sangat mengembirakan bagi kami, berpetualang di udara melihat keindahan alam yang begitu hebatnya.