Beda Nyeri Punggung karena Saraf Terjepit dengan Gangguan pada Tulang Belakang

Read Time:2 Minute, 45 Second

harfam.co.id, Jakarta – Penyebab sakit punggung ada bermacam-macam, termasuk masalah yang terjadi pada otot, saraf, atau tulang belakang.

Konsultan Ahli Bedah Tulang Belakang Ortopedi Rumah Sakit Ortopedi ALTY Kuala Lumpur Dr Lee Chee Kean mengatakan, untuk mengetahui penyebabnya, Anda perlu melihat dulu rasa sakitnya. Menurut Lee, nyeri punggung akibat kelainan otot biasanya mereda dalam dua hingga tiga hari.

Namun, bagi individu yang mengalami nyeri punggung jangka panjang yang berulang dengan nyeri yang semakin meningkat, Lee menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Terkadang kelainan tulang belakang bersifat serius dan memerlukan intervensi medis seperti pembedahan.

Waspada jika mengeluh sakit punggung disertai demam, kehilangan nafsu makan, atau nyeri yang timbul pasca kecelakaan, ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat, 8 Maret 2024.

Kondisi saraf terjepit, yang secara medis dikenal sebagai herniated nukleus pulposus (HNP), terjadi ketika nukleus pulposus pada diskus intervertebralis atau tulang belakang menonjol dan menekan saraf tulang belakang.

Nyeri akibat saraf terjepit, kata Lee, berbeda dengan nyeri punggung biasa. Bahkan sering disangka stroke.

“Saraf kejepit berbeda dengan nyeri punggung biasa. Penyebab nyerinya berasal dari saraf di punggung yang biasanya terasa di sepanjang punggung hingga pinggul, tergantung saraf mana yang akan dirasakan di sepanjang kaki, kiri atau kanan.” ” jelasnya.

Gejala saraf terjepit dapat berupa: nyeri punggung, kelemahan otot, mati rasa, kesemutan, dan kehilangan kendali motorik.

Secara umum, rasa tidak nyaman akan terasa semakin parah bila individu yang mengalaminya terlalu lama berjalan atau berdiri. Saraf terjepit adalah suatu kondisi yang memerlukan pembedahan.

Selain saraf terjepit, beberapa kondisi nyeri punggung yang juga memerlukan pembedahan antara lain skoliosis dan stenosis tulang belakang. Pada skoliosis, bentuk tulang belakang tidak lurus, melainkan melengkung atau berbentuk S. Sedangkan pada stenosis tulang belakang, saluran tulang belakang menyempit dan menekan saraf tulang belakang sehingga menimbulkan gejala nyeri, lemas, dan kesulitan berjalan.

Namun, sebelum melakukan operasi, dokter harus melakukan serangkaian tes untuk mendiagnosis nyeri punggung yang dialami seseorang. Pengendalian ini juga untuk memastikan tindakan yang diperlukan dan mengevaluasi risiko terkait.

Sinar-X, computerized tomography dan magnetic resonance imaging (MRI) adalah beberapa tes yang harus dijalani oleh pasien dengan penyakit tulang belakang. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran detail mengenai struktur tulang belakang, saraf, dan jaringan lunak pasien. MRI membantu mendiagnosis stenosis tulang belakang atau HNP.

Operasi punggung, khususnya ALTY, bergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien. Namun, Lee mengatakan hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam.

“Kalau kasusnya serius, kami akan punya tim, sehingga bisa berbagi pandangan dengan konsultan backbone,” jelasnya.

Lee juga menjelaskan bahwa ALTY memiliki dokter spesialis yang hanya mengkhususkan diri pada satu bidang saja. Spesialisasi ini bertujuan untuk memberikan pasien pelayanan kesehatan dari ahlinya.

Seperti prosedur medis lainnya, Lee mengatakan operasi untuk mengatasi masalah tulang belakang yang serius juga memiliki risiko.

Risiko yang dapat terjadi antara lain infeksi pada area pembedahan atau bahkan mempengaruhi sistem tubuh secara keseluruhan, kerusakan saraf tulang belakang sehingga menimbulkan gejala nyeri kronis, kelemahan bahkan hilangnya fungsi motorik.

Selain itu, ada juga risiko yang terkait dengan anestesi atau anestesi selama operasi. Risiko ini termasuk reaksi alergi atau komplikasi pernapasan. Oleh karena itu, pasien khususnya lansia memerlukan pemeriksaan tambahan sebelum operasi, salah satunya adalah memeriksa kondisi jantung.

Namun, Lee mengatakan dengan pemeriksaan yang tepat dan tim medis yang kompeten, risiko terhadap tulang belakang tidak tinggi.

“Risikonya tidak tinggi. Biasanya satu persen bahkan kurang dari satu persen. Yang penting pahami betul kondisi pasien,” jelasnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Depresi pada Mahasiswa PPDS, Ini 5 Tindak Lanjut yang Harus Dilakukan
Next post Anugerah KIP 2023, USU Sabet Predikat Informatif untuk Ketiga Kalinya Berturut-turut