Dirut BRI: Kondisi Ekonomi Indonesia Lebih Relate dengan China

Read Time:1 Minute, 36 Second

harfam.co.id, JAKARTA – Di tengah tantangan krisis ekonomi dan politik global, seluruh dunia mengkhawatirkan krisis ekonomi yang mulai melanda ketika pandemi Covid-19 dimulai empat tahun lalu. .

Selain itu, saat ini konflik antara Israel dan Iran mulai memanas, termasuk inflasi AS sebesar 3,5% yang memaksa Indonesia mengubah suku bunga The Fed. Menanggapi hal tersebut, Dirjen BRI. Sunarso mengatakan BRI punya pemikiran lain. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan BIS.

“BRI adalah sebuah studi tentang hubungan antara perekonomian Indonesia dengan negara-negara lain di dunia, negara mana yang paling terhubung. Bahwa saat ini perekonomian kita mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan perekonomian Tiongkok. Saat ini, kekuatan hubungan ini sangat kuat. Antara perekonomian Indonesia dan Amerika menyusut,” ujarnya. Sunarso dalam konferensi pers online memaparkan proyek BRI kuartal I 2024 pada Kamis (25/4/2024).

Oleh karena itu, krisis ekonomi yang dialami Tiongkok akan berdampak signifikan terhadap Indonesia. Seperti diketahui, perekonomian Tiongkok hanya akan tumbuh sebesar 5,2% pada tahun 2023, menurut statistik yang disetujui badan statistik nasional/NBS. Perlambatan perekonomian Tiongkok dapat berdampak pada beberapa sektor perekonomian kawasan, termasuk Indonesia, salah satu negara yang paling erat kaitannya dengan perdagangan.

Perekonomian Tiongkok tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal pertama. Namun krisis keuangan telah menjadi hambatan besar bagi perekonomian Tiongkok. Peristiwa yang terjadi pada bulan Maret lalu menunjukkan parahnya krisis keuangan yang berdampak pada banyak perekonomian. Krisis ini juga mempengaruhi kepercayaan bisnis dan konsumen, rencana investasi, keputusan perekrutan dan kinerja pasar saham.

Meskipun Federal Reserve dan negara-negara terkemuka lainnya tidak terburu-buru untuk mulai menurunkan suku bunga, Tiongkok mungkin akan kembali mengalami pertumbuhan yang lambat untuk waktu yang lama. Hal ini merupakan pukulan telak bagi harapan para politisi terhadap stabilitas ekonomi.

Tiongkok juga menghadapi konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat mengenai perdagangan, teknologi, dan geopolitik. Pertemuan Politbiro yang diperkirakan akan berlangsung pada bulan April akan memberikan indikasi mengenai tanggapan kebijakan Beijing, meskipun hanya sedikit ahli yang memperkirakan adanya dorongan besar.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Perputaran Uang Libur Lebaran 2024 Diramal Capai Rp 157,3 Triliun
Next post Kabar Gembira, Harga Beras Mulai Turun Rp 200 per Kg Berkat Panen Raya