Manco, Kue Kering Renyah Legit Bertabur Wijen Khas Purbalingga

Read Time:2 Minute, 26 Second

harfam.co.id, Purbalingga – Catur Pratama (33) memulai usahanya pada tahun 2017, membuat makanan ringan dengan bahan baku tepung beras.

Kini dengan bahan baku 800 kg per bulan di Catur, pemuda asal Desa Majapura RT 01 RW 04 Kecamatan Bobotsari ini menjual produk beras ketan manco merek Putkinas dengan harga Rp 50 ribu per kg.

Dengan jiwa wirausaha yang bermanfaat bagi masyarakat, Catur kini menjual produknya di minimarket dan pasar di Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo. Peralatan sederhana yang dimilikinya di rumah menjadi modal dalam menyukseskan jajanan biji wijen ini.

Saya berharap tersedia peralatan produksi yang modern untuk mendukung produksi yang lebih banyak, kata Kominfo Purbalingga seperti dikutip dalam keterangan tertulis.

Catur juga merasa pelatihan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga membantu. Selain itu, UMKM yang terdaftar di Dinkopukm Purbalingga juga akan mendapatkan kenyamanan dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga ketika mendapatkan legalitas usahanya.

“Terima kasih banyak atas bantuannya terutama dalam hal pelatihan hukum dan bisnis,” ujarnya.

Tonton video unggulan ini:

Manco merupakan kue wijen khas Purbalingga. Kalau dimakan renyah, tapi juga legit. Berikut informasi yang perlu Anda ketahui dari Manco:

Manco di Purbalingga terbagi menjadi dua jenis, yaitu yang berbahan dasar tepung ketan dan yang berbahan dasar tepung tapioka. Karena bahan dasarnya lebih mahal, Manco yang terbuat dari tepung ketan juga harganya hampir dua kali lipat dibandingkan Manco yang terbuat dari tepung tapioka. Dan untuk rasanya tentu juga berbeda. Bahasa Purbalingga: kelihatannya rega ngawa, harga biasanya mahal, kualitas juga lebih baik.

Sudarsono (39) yang beralamat Jl AW Soemarmo Rt 03 Rw 02 Kembaran Kulon merupakan salah satu produsen Manco yang cukup konsisten di Purbalingga. Darsono mengatakan, dirinya merupakan generasi kedua di bisnis yang dibangun ayahnya, Sumarjo, 64 tahun.

“Ayah saya sudah menggeluti bisnis manco sejak kecil, sekitar 40 tahun yang lalu. “Setelah usahanya berkembang dan dia merasa ingin istirahat, dia mewariskannya kepada keenam anaknya, salah satunya saya,” jelas anak kedua Sumarj.

Bahan untuk membuat manco hanya ada tiga jenis, yaitu tepung terigu (tapioka/ketan), gula pasir, dan wijen. Namun untuk wijennya, Darsono belum mendatangkannya khusus dari Makassar.

Menurut Darson, usahanya yang kini dibantu adik perempuannya Siti Maesaroh, 32, terus mbanyu mili atau mengalir seperti air. Jangan pernah mengalami ruang hampa. Bahkan pada periode tertentu seperti Idul Fitri, hari raya dll, omzet instan meningkat tajam. Jika di hari biasa ia menggoreng manca hingga 200 kg, saat high season bisa mencapai lebih dari 500 kg per hari.

Selain penjualan lokal, manco Darson yang menggunakan merek Miss Carmel ini sudah merambah ke beberapa kota seperti Pekalongan, Pemalang, Tegal, Banjarnegara, dan Purwokerto. Kebanyakan pembeli yang datang ke Darsono membeli dalam jumlah besar atau grosir.

“Namun kami juga melayani ritel,” jelasnya.

Untuk pemesanan dalam jumlah besar harap menghubungi 0281 891995 terlebih dahulu. Jika ada stok, bisa langsung diambil dan dibayar. Namun jika stoknya habis, pembeli sudah mengetahui kapan akan menerima manco yang dipesannya.

Selain menjual manco produksinya sendiri, Darsono juga menjual makanan ringan lainnya seperti makaroni, kentang, dan keripik jagung di toko kecilnya. Bagaimana? Siap membeli?

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Bea Cukai Kualanamu Minta Penumpang Lapor Barang Bawaan, Stafsus Menkeu: Kurang Sesuai
Next post Qualcomm Snapdragon 8s Gen 3 Siap Meluncur, Ini Speknya