Masih Jadi Perdebatan, Apa Bedanya Tornado dan Angin Puting Beliung?

Read Time:2 Minute, 9 Second

Jakarta – Pada Rabu sore, 21 Februari 2024, wilayah Bandung dan sebagian wilayah Sumedang, Jawa Barat dilanda angin puting beliung yang dahsyat sehingga mengakibatkan sejumlah bangunan rusak, pohon tumbang, dan lebih dari 20 orang luka-luka. .

Saat angin puting beliung terjadi, beberapa warga merekam kejadian tersebut dan videonya viral di media sosial.

Menurut ilmuwan iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Ylihastin, angin kencang tersebut sebenarnya adalah angin puting beliung.

“Sekarang percaya kalau angin puting beliung bisa terjadi di Indonesia? KAMAJAYA telah merencanakan “peristiwa ekstrim” pada 21 Februari 2023,” cuit Erma X.

Erma juga mengatakan, angin kencang ini berlangsung lebih lama dibandingkan angin puting beliung yang biasa terjadi di Indonesia. Lalu apa perbedaan antara angin puting beliung dan angin puting beliung? Simak informasinya di bawah ini: Perbedaan Antara Tornado dan Angin Puyuh

Laporan laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jumat 23 Februari 2024 menjelaskan, istilah puting beliung di Indonesia digunakan untuk menyebut angin puting beliung berukuran kecil. Tornado dan sumur air terjadi di darat, dan jika terjadi di perairan seperti laut atau danau maka fenomena tersebut disebut “tornado”.

Puting beliung, puting beliung, puting beliung, dan siklon merupakan fenomena atmosfer yang terjadi dalam bentuk vortisitas. Namun perbedaan utamanya terletak pada ukuran diameternya.

Tornado, angin puting beliung, dan lubang bor memiliki diameter yang relatif kecil, biasanya hanya ratusan meter, sedangkan siklon dapat memiliki diameter hingga ratusan kilometer. Kerusakan akibat angin puting beliung diukur menggunakan skala yang disebut skala Fujita, yang berkisar antara F0 hingga F5.

Menurut Sigit Baihu Iriantoni dalam penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Modul Siaga Bencana Angin Puting Beliung Bagi Mahasiswa Geografi UNNES” (2015), angin puting beliung merupakan fenomena perputaran angin kencang yang berasal dari awan kumulonimbus dengan kecepatan angin4. ,8 knot atau sekitar 64,4. km per jam dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat.

Fenomena ini disebabkan oleh perbedaan tekanan yang sangat besar pada area di bawah atau sekitar awan kumulonimbus.

Di sisi lain, penelitian Fazrul Rafsanjani Sadarang dan rekannya dalam “Sebaran Penempatan Beliung di Jawa” (2018) menunjukkan bahwa angin puting beliung cenderung terbentuk pada musim pancaroba dan musim hujan, sering terjadi pada sore hari. sampai malam hari mulai pukul 12:00 WIB hingga 18:00 WIB.

Kondisi ini disebabkan oleh posisi matahari yang memberikan pemanasan maksimal pada musim tersebut. Sinar matahari merupakan sumber energi utama yang digunakan untuk proses konveksi yang membentuk awan konvektif kumulonimbus.

Penting untuk diperhatikan bahwa angin puting beliung di satu lokasi biasanya tidak terulang kembali dalam waktu singkat di lokasi yang sama. Angin puting beliung yang dahsyat menghancurkan 103 rumah di Kepulauan Karimun. Berdasarkan data yang dihimpun harfam.co.id.co.id wilayah 14 Mei 2024

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Masyarakat Diminta Jangan Gampang Umbar Data Pribadi
Next post 7 Strategi Berlindung dari Gelombang Ransomware, Terakhir bikin Apes Hacker