Temuan Sisa-sisa Penguasa Maya yang Terbakar Ungkap Revolusi Politik Kuno

Read Time:1 Minute, 39 Second

JAKARTA – Penggalian arkeologi luar biasa di Guatemala mengungkap bukti pergolakan politik dramatis pada periode yang berujung pada runtuhnya peradaban Maya. Sisa-sisa keluarga kerajaan Maya yang hangus ditemukan di sebuah piramida kuno, memicu demonstrasi publik dengan pembakaran untuk menandai pergantian rezim.

Para arkeolog telah menemukan sisa-sisa kremasi setidaknya dua orang, bersama dengan kemewahan yang biasanya ditemukan di makam kerajaan Maya, saat menggali sebuah bangunan di kota kuno Yukanal, yang pernah menjadi ibu kota dinasti Conventsal Penemuan penting adalah topeng batu giok, yang menunjukkan bahwa salah satu yang terbakar adalah penguasa Keanuitzal.

Penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa pembakaran tersebut terjadi antara tahun 773 dan 881 M, dan para korban mungkin telah meninggal beberapa waktu sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kuburan mereka sengaja dibuka untuk mengkremasi jenazah orang tua.

Para peneliti menjelaskan temuan ini dalam sebuah studi baru dan mengaitkannya dengan munculnya rezim politik baru di Kaanavichanali di bawah penguasa bernama Papamalele. Papamelil menyebabkan perubahan struktural besar dalam masyarakat Maya, termasuk penghapusan hierarki sosial dan transisi ke era egaliter di mana “perbedaan antara keluarga elit dan non-elit sangat berkurang”.

Para peneliti membandingkan transisi ini dengan Revolusi Perancis dan berpendapat bahwa pembakaran para penguasa sebelumnya memiliki tujuan yang sama dengan penyerbuan Bastille: untuk menandai momen simbolis perubahan politik.

Christina T. Halperin, penulis penelitian tersebut, menjelaskan bahwa “kremasi mungkin merupakan peristiwa publik yang dramatis.” Dia menambahkan bahwa “karena pembakaran itu sendiri berpotensi menjadi tuduhan formal, publik dan emosional, hal ini dapat secara dramatis menandakan jatuhnya rezim sebelumnya.”

Setelah kebangkitan Paus, banyak bangunan di Yukanal dihancurkan, dan batu tersebut digunakan sebagai pengisi struktur monumental baru, “mengubur simbol-simbol rezim sebelumnya,” tulis para peneliti, seperti dilansir IFL Science.

Sisa-sisa kerajaan yang hangus itu “dilempar ke tepi tembok abu-abu yang digunakan sebagai pagar bangunan”, tanpa melindungi tulang atau ornamen dari batu yang kemudian diletakkan di atasnya.

Penemuan ini memberikan wawasan menarik mengenai periode pergolakan politik yang signifikan dalam sejarah Maya dan menunjukkan alat brutal namun simbolis yang digunakan untuk menandai peralihan kekuasaan dan era baru.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Atalia Praratya Sempat Larang Zara Lepas Hijab dan Kuliah di Inggris
Next post Uni Eropa Siapkan Sanksi Baru Batasi Ekspor LNG Rusia, Moskow Meradang