Upaya Mahasiswa Kurangi Sampah Plastik, Kompak Lakukan Ini

Read Time:3 Minute, 30 Second

DEPOK – Mulai sadar akan dampak lingkungan, mahasiswa asrama Universitas Indonesia (UI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) mulai meninggalkan penggunaan galon air minum kemasan sekali pakai. Diakuinya, membuang galon bekas memang sulit.

Saat ditemui di kampus, mahasiswa UI bernama Vito mengaku selama ini menggunakan galon sekali pakai untuk perlengkapan minum di asramanya. Namun, anggota DPR yang tinggal di kos-kosan di kawasan Kukusan Depok itu mengaku repot membuang galon bekas setelah minum. Dia bilang dia menghabiskan satu galon dalam dua minggu. Scroll untuk mengetahui cerita lengkapnya, yuk!

“Iya, saya kadang bingung mau membuang galon sekali pakai ke mana. Karena galon itu pun tidak bisa masuk ke tempat sampah. Akhirnya saya taruh di samping tempat sampah. “Dan terkadang galon-galon itu juga masuk ke jalan kita,” katanya.

Melihat situasi yang tidak menyenangkan ini, mereka berniat untuk berhenti menggunakan air kemasan dan akan menggunakan liter air yang dapat digunakan kembali sehingga tidak menimbulkan limbah.

“Saya juga berencana mengganti galon sekali pakai dengan liter yang bisa digunakan kembali dan tidak terlalu boros,” ujarnya.

Kansa, mahasiswa pascasarjana bisnis Islam UI yang duduk di kawasan Kukusan Teknik UI (Kutek), Depok, menuturkan hal serupa. Ia mengaku saat ini menggunakan galon yang bisa digunakan kembali di asramanya.

“Tapi dulu saya pakai galon sekali pakai. “Kemudian saya ganti dengan galon bekas karena saya kerepotan membuang galon bekas tersebut,” ujarnya.

Begitu pula dengan Harriman, salah satu jurusan sistem informasi UI. Salah satu pria yang menaiki area antar muka Kutek mengaku kamarnya sempit karena terdapat tumpukan galon sekali pakai.

“Saya bingung mau membuangnya ke mana. Satu galon terlalu besar untuk muat jika dibuang ke tempat sampah. “Akhirnya aku menaruhnya di kamarku,” katanya.

Oleh karena itu, mereka bertujuan untuk mengganti galon sekali pakai dengan liter yang dapat digunakan kembali untuk menghindari pemborosan.

“Saya hanya ingin mengganti ke galon bekas yang tidak perlu dibuang saat air habis. Kamar saya juga tidak penuh dengan galon bekas,” ujarnya.

Tak hanya mahasiswa UI, mahasiswa IPB Hostel juga mengalami hal serupa. Bayu, mahasiswa kedokteran IPB, juga mengaku kesulitan membuang galon air minum sekali pakai ke tempat sampah.

“Sampahnya tidak muat dan anak kos hanya membuangnya ke tempat sampah. “Membuat suasana asrama menjadi tidak nyaman,” kata salah satu penghuni asrama di kawasan Sibanteng, Dramaga, Bogor.

Mereka berencana mengubah galon sekali pakai tersebut menjadi liter yang dapat digunakan kembali dan ramah lingkungan.

“Saya dan teman-teman asrama semua ingin mengganti galon sekali pakai ini dengan liter yang bisa digunakan kembali agar tidak terbuang percuma,” ujarnya.

Senada dengan itu, Atika, mahasiswa pascasarjana bidang pengelolaan sumber daya air IPB, juga mengaku kesulitan membuang galon sekali pakai.

“Tempat sampahnya kurang karena galonnya terlalu besar,” kata pelajar yang tinggal di kost di Sibanteng, Dramaga, Bogor itu.

Hal senada diungkapkan Reski, mahasiswa Geologi IPB yang kos di kawasan Babakan Tengah, begitu pula Nurma, mahasiswa S2 Manajemen, dan Rosella, mahasiswa jurusan Peternakan yang kos di Rumah Belazar. Ia mengatakan ingin mengganti galon sekali pakai dengan liter yang bisa digunakan kembali. Menurut dia, alasannya untuk menghindari kekacauan akibat membuang galon bekas.

Sebelum. Greenpeace Indonesia melihat produk galon sekali pakai bertentangan dengan semangat pengurangan sampah, dan Indonesia bertujuan untuk mengurangi sampah laut sebesar 70 persen pada tahun 2025.

Muharram Atha Rasyadi, aktivis Greenpeace di Indonesia, mencatat adanya keanehan dimana pemerintah berusaha menyasar pengurangan sampah, khususnya sampah plastik, padahal ada industri yang justru meluncurkan produk baru yang berpotensi menghasilkan sampah, seperti minuman kemasan. Produk Air Minum (AMDK) Tersedia Galon.

“Itu nama yang aneh,” katanya.

Menurut Atha, industri penghasil galon sekali pakai sebaiknya tidak hanya melirik botol berbahan PET yang diklaim dapat didaur ulang dan merupakan salah satu jenis plastik yang paling banyak dicari pemulung. Label dan tutup berpotensi menjadi sampah.

Oleh karena itu, keberadaan produk AMDK galon sekali pakai ini bukanlah langkah yang baik dalam mengurangi sampah di Indonesia, ujarnya.

Ia khawatir daur ulang yang ramah lingkungan akan ditinggalkan jika masyarakat kemudian beralih dan terbiasa dengan kemasan galon sekali pakai.

“Saya punya gambaran seberapa besar potensi sampah yang dimiliki Indonesia. Kita saja belum punya galon sekali pakai, sampah yang kita hasilkan sudah banyak, apalagi tambahan sampah dari galon sekali pakai,” kata Atha. Staf Khusus Keuangan: Bea Cukai Bukan Keranjang Sampah Mabes Khusus atau Menteri Komunikasi Strategis Justinus Prastovo mengatakan Bea dan Cukai Bukan Keranjang Sampah harfam.co.id.co.id 29 April 2024

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Waspada Quishing, Penguras Rekening Korban di HP
Next post Menjajal Nightography Galaxy S24 Ultra untuk Bidik Tari Kecak Api di Ubud